Pertama Kali ke Jakarta (Part 2)


Dengan bis wisata yang disediakan Pemprov DKI Jakarta ini kita bisa berkeliling ke beberapa tempat yang menjadi icon Kota Jakarta seperti Bundaran HI, Tugu Monumen Nasional, sampai ke Kota Tua secara gratis. Bila kalian ingin mencoba naik bis ini, tunggu saja di halte khusus bis wisata karena bis ini tidak berhenti di sembarang tempat. Karena bis ini tingkat, kita jadi lebih leluasa untuk menikmati Kota Jakarta. Berikut beberapa foto hasil jepretan saya saat berada bis tingkat ini.






Setelah naik bis tingkat, saya turun di Kota Tua. Saya penasaran ingin melihat dengan menggunakan mata kepala saya sendiri bangunan yang sangat terkenal di tempat ini, yaitu Museum Fatahillah. Selain Museum Fatahillah, di sekitar tempat ini ada banyak sekali bangunan-bangunan tua, salah satunya adalah Museum Bank Mandiri. Di tempat ini kita bisa melihat sejarah perkembangan Bank Mandiri beserta peninggalan-peninggalannya seperti mesin ketik jadul sampai mesin ATM Jadul. Dan tidak hanya Museum Bank Mandiri, ada juga Museum Bank Indonesia. Di sekitar Kota Tua terdapat banyak sekali pedagang kaki lima dari yang berjualan baju sampai yang berjualan makanan maupun minuman. Selain itu, terdapat pula orang-orang yang berdandan ala superhero ataupun ala-ala kuntilanak yang bisa kita ajak foto bareng. Dan kita juga bisa menyewa sepeda warna-warni jika ingin merasakan sensasi berbeda mengelilingin tempat ini.

ATM Jadul Bank Mandiri

Mesin Pembukuan Rekening Jadul Bank Mandiri

Koleksi Mesin Ketik Jadul Bank Mandiri

Sejarah Bank Mandiri

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah
Selain ke Monas dan Kota Tua, sebagai seseorang yang hobi nonton sepak bola, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Gelora Bung Karno. Selama ini kalo ngelihat di TV kan besar dan luas banget itu stadionnya, saya penasaran seberapa besar dan luas kalo saya melihatnya secara langsung. Dan ternyata memang benar stadionnya sangat besar dan luas. Saya mencoba untuk mengelilinginya sekali dan berakhir tepar.

Patung Panahan di sekitar GBK
Destinasi lainnya yang saya kunjungi adalah Dunia Fantasi atau yang sering disebut dengan Dufan. Saat hendak berangkat ke Dufan, saya sangat antusias sekali membayangkan akan menaiki wahana yang menguji nyali yang selama ini hanya saya lihat di TV. Saat itu saya berpikir ah kecil kalo cuman naik wahana begitu mah, saya nggak bakal muntah. Dan sampai di lokasi, saya beserta teman-teman saya mencoba wahana Kora-Kora. Dan lagi-lagi saya menganggap remeh wahana ini karena saya anggap cuma kayak naik ayunan tapi lebih gede. Ternyata eh ternyata, perut saya mual dan nyaris muntah hahahahahaha. Akhirnya Kora-Kora sudah membuat nyali saya ciut duluan sebelum nyobain wahana yang lain.
Sesaat sebelum wahana Kora-Kora dijalankan
Selain Kora-Kora, kami juga menaiki wahan Hysteria yang awalnya saya kira akan membuat saya mual. Setelah naik, ternyata wahana yang satu ini tidak membuat mual, hanya saja bikin jantung serasa ketinggalan di bawah saat kita diangkat ke atas. Tidak hanya Hysteria yang bikin jantung ketinggalan, Kicir-Kicir justru lebih lengkap lagi, selain bikin pusing dan mual, wahana ini juga bikin jantung kita berdegup lebih kencang seperti genderang mau perang.

Satu-satunya wahana yang tidak saya naiki adalah Tornado. Nggak, bukan karena saya takut naik, tapi karena saya takut banget wkwkwkwkwk. Bayangin aja kalo kita diputer-puter di atas ketinggian, pasti nggak enak banget rasanya. Jadi saat teman-teman saya pada naik wahana ini saya cuma jadi juru foto :)

Sesaat sebelum Tornado dimulai
Hampir semua wahana kami coba, termasuk Bianglala. Saat akan menaiki wahana ini saya tidak takut sama sekali, karena saya pernah juga naik yang beginian walaupun skalanya lebih kecil. Begitu naik dan posisi saya di puncak, ternyata saya ketakutan juga gara-gara tempat duduknya goyang-goyang. Dalam pikiran saya, kalo sampai jatuh gimana ya nasib kami semua? Dan untunglah tidak ada hal buruk yang terjadi.

Bianglala


Tak ketinggalan, Komedi Putar pun dicoba



Bersambung....
Share:

0 komentar:

Post a Comment