Amaris Hotel Banjar (Review)


Beberapa waktu yang lalu saya melakukan travelling ke Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dan harus menginap di Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan. Karena di sana saya tidak memiliki sanak saudara sama sekali, maka saya harus mencari hotel untuk menginap. Dan akhirnya saya memutuskan untuk memesan hotel via aplikasi online. Setelah bolak-balik scroll halaman pencarian, akhirnya ada satu hotel yang cukup menarik perhatian saya. Gimana nggak menarik, dengan rate hanya Rp 300ribuan udah bisa dapet hotel plus sarapan. Cukup murah menurut saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di Amaris Hotel Banjar.

Hotel ini sendiri terletak di Jalan Ahmad Yani Km. 7 yang mana berada di jalan utama di Kota Banjarmasin. Sangat mudah untuk diakses maupun ditemukan. Lokasinya sendiri berdekatan dengan pasar, sehingga memudahkan kita untuk mencari makanan ataupun yang lainnya. Selain itu, lokasi Amaris Hotel Banjar juga berdekatan dengan kantor polisi. Tak hanya itu, lokasi parkir kendaraan roda 2 maupun roda 4 pun terbilang cukup luas.

Begitu sampai di hotel, proses check in berjalan lancar. Saya hanya diminta untuk menunjukkan ID Card dan membayar deposit sebesar Rp 50.000. Kemudian, mbak-mbak receptionist yang cantik memberikan saya kunci kamar beserta user dan password wifi. Setelah itu, saya pun menuju ke kamar saya yang berada di lantai 3 dan posisinya berada di ujung.

Setelah memasuki kamar yang telah disediakan, saya pun segera mengecek fasilitas apa saja yang saya dapatkan. Kamar yang saya pesan adalah smart twin room, yang mana difasilitasi 2 tempat tidur, AC, dan TV. Selain itu, di kamar disediakan 2 botol air mineral dan bungkusan berlogo Amaris yang setelah saya buka ternyata isinya sandal. Tidak hanya itu, di kamar yang saya tempati juga disediakan safe deposit box beserta panduan penggunaanya. Tapi entah panduannya yang kurang lengkap atau memang saya yang nggak bisa makenya, SDB itu tidak bisa saya buka. Mungkin kalo saya telpon receptionist akan dibantu cara menggunakannya. Berhubung tidak ada barang yang sangat berharga yang perlu saya masukkan ke dalam SDB itu, maka saya urungkan niat saya untuk memastikan apakah SDB itu bisa digunakan atau tidak. Oh iya, selain itu, di kamar juga tersedia cermin panjang yang bisa digunakan untuk bercermin seluruh badan dari ujung kaki sampai ujung kepala.








Untuk wifi sendiri sebenarnya jaringannya cukup lancar, hanya saja sinyalnya sangat lemah bahkan kadang-kadang hilang. Entah posisi kamar saya yang letaknya jauh dari modem wifinya atau bagaimana, saya juga kurang mengetahuinya.

Kemudian, saya pun menuju kamar mandi untuk mengecek apa saja yang saya dapatkan di kamar mandi. Setelah saya cek, ternyata saya tidak mendapatkan handuk dan juga sikat gigi beserta pasta giginya. Yang ada hanya sabun dan shampo yang diletakkan di dua buah wadah yang menempel di dinding di dekat shower dan itu pun sabunnya udah mau habis dan nggak direfill. Dalam hati saya bergumam, "Mungkin karena murah dan dapat sarapan makanya nggak dikasih handuk sama sikat gigi dan juga pastanya. Untung saya bawa handuk sendiri. Fyuuuhh....."





Karena saya merasa begitu gerah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, saya pun bergegas untuk mandi bermodalkan handuk yang saya bawa sendiri. Pada saat saya sedang asyik-asyiknya mandi, tiba-tiba pintu kamar ada yang membuka. Menyadari ada orang di dalam kamar setelah melihat barang yang berantakan di kamar dan suara gemericik air dari kamar mandi, pintu pun kemudian ditutup kembali. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan yang diikuti kalimat "Room service". Karena kaget sekaget-kagetnya pintu bisa terbuka, saya yang sedang asyik mandi pun segera mengambil handuk dan membersihkan diri. Setelah itu, saya buka pintu kamar dan ternyata karyawan hotel ingin mengantarkan handuk ke kamar. Sekalian saja, saya menanyakan perihal sikat dan pasta gigi yang tidak tersedia di kamar. Menurut pengakuan karyawan, sikat dan pasta gigi diletakkan di tempat yang sama dengan sandal yang dibungkus. Namun faktanya, sikat dan pasta gigi tidak ada di tempat itu. Setelah saya bersikeras, akhirnya karyawan tersebut pun mau untuk memberikan sikat dan pasta gigi.



Setelah kejadian ini, saya pun bertanya-tanya, kok bisa pintu kamar dibuka tanpa ketuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan apakah di dalam kamar ada orang atau tidak. Lagipula masa nggak ada datanya kamar mana yang ada orangnya dan mana yang kosong?

Selain itu, saat saya hendak menggosok gigi, saya melihat gelas yang disediakan di dekat wastafel dalam kondisi tidak bersih. Saya melihat noda bekas pasta gigi di gelas tersebut. Apa gelas yang disediakan ini memang nggak pernah dicuci? Pengalaman ini memberikan saya pelajaran kalo mau pake gelas yang disediakan di kamar hotel mending kita cuci dulu, siapa tau belum dicuci.


Secara keseluruhan sebenernya hotel ini cukup recommended. Segala fasilitas yang disediakan berfungsi dengan baik. Dengan harga yang cukup murah saya bisa menginap plus mendapatkan sarapan pula! Hanya saja entah saya lagi sial atau apa, saya mendapati kondisi gelas yang kurang bersih dan kejadian yang kurang mengenakkan tersebut. Semoga saja apabila pihak hotel membaca tulisan saya ini, mereka bisa berbenah agar lebih baik lagi. Sayang sekali bila hotel yang sangat menarik ini harus kehilangan pelanggannya hanya karena hal-hal seperti yang saya sebutkan di atas.

NB: Saya menulis ini tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan. Saya hanya menuliskan apa yang saya alami agar kedepannya hotel ini bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi dan agar saya tidak jera untuk kembali menginap di hotel ini.
Share:

0 komentar:

Post a Comment