Segitiga Eksposure

Dalam dunia fotografi maupun videografi, segitiga eksposure merupakan salah satu hal yang wajib dikuasai. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tau apa itu segitiga eksposure. Dan bagi yang belum tau, izinkan saya untuk menjabarkannya sesuai dengan apa yang saya tau.
Segitiga Eksposure
Segitiga eksposure adalah sebuah teknik dasar kamera yang terdiri dari 3 elemen, yaitu shutter speed, aperture, dan ISO. Bagi yang sudah pernah pegang kamera mungkin sudah tidak asing dengan 3 istilah tersebut. Tapi, bagi yang belum pernah pegang ataupun baru pegang kamera, mungkin bertanya-tanya apa sih shutter speed, aperture dan ISO itu? Supaya tidak membingungkan saya akan mem-break down-nya sesimpel mungkin agar lebih mudah dipahami.

Shutter Speed
Yang pertama akan kita bahas adalah shutter speed. Apa itu shutter speed? Sederhanya itu seperti ini, shutter speed adalah seberapa cepat cahaya masuk ke dalam sensor kamera kita. Semakin lama cahaya masuk ke dalam sensor, maka gambar yang dihasilkan akan semakin terang. Namun, semakin lama cahaya masuk ke dalam sensor ternyata ada efek samping yang ditimbulkan, yaitu gambar yang dihasilkan menjadi ngeblur.

Sebaliknya, semakin cepat cahaya masuk ke dalam sensor maka gambar yang dihasilkan akan semakin gelap. Namun, apabila kita mengambil gambar dengan shutter speed yang cepat, maka gambar yang dihasilkan akan semakin freeze.

Dalam shutter speed, satuan yang biasa digunakan adalah detik. Misalnya 30, itu berarti jendela sensor akan terbuka selama 30 detik ataupun 1/1000 yang berarti jendela sensor akan terbuka selama 1/1000 detik. Jadi, shutter speed berapa yang ideal dapat kita gunakan? Itu tergantung kondisi dan gambar seperti apa yang ingin kita hasilkan. Pada saat mengambil gambar di arena balap, seorang fotografer akan cenderung menggunakan shutter speed yang sangat cepat agar hasil gambarnya tidak ngeblur. Sedangkan, pada saat akan mengambil gambar air terjun, seorang fotografer akan cenderung menggunakan shutter speed yang lambat agar menghasilkan gambar aliran air yang lembut seperti kapas.
Shutter Speed 1/15s
Aperture f22
ISO 800
Objek agak ngeblur saat shutter speed terlalu lambat
Shutter Speed 1/100s
Aperture f13
ISO 800
Objek tidak terlalu ngeblur saat shutter speed dinaikkan
Shutter Speed 1/4000s
Aperture f2
ISO 800
Objek tidak ngeblur (ngefreeze) saat menggunakan shutter speed yang cepat

Aperture
Hal yang akan kita bahas selanjutnya adalah aperture. Apa itu aperture? Kurang lebihnya seperti ini, aperture adalah seberapa besar/banyak cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera kita. Semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam sensor, maka gambar yang akan dihasilkan akan semakin terang dan bokeh. Sebaliknya, semakin sedikit cahaya yang masuk ke dalam sensor, maka gambar yang akan dihasilkan akan semakin gelap dan tidak bokeh.

Aperture biasanya disimbolkan dengan f lalu diikuti angka tertentu. Contohnya f1.7, f3.5, f22, dan lain sebagainya. Semakin kecil angkanya maka cahaya yang masuk ke sensor akan semakin banyak. Vice versa, semakin besar angkanya maka cahaya yang masuk ke sensor akan semakin sedikit. Jika kalian bertanya aperture berapakah yang paling ideal untuk digunakan, sama seperti shutter speed, semuanya digunakan tergantung kebutuhannya. Ada momen dimana sang fotografer ingin menghasilkan gambar yang bokeh dan ada juga momen dimana sang fotografer tidak ingin menghasilkan gambar yang bokeh. Kembali lagi, semua tergantung ke kebutuhan kita masing-masing.
Shutter Speed 1/30s
Aperture f22
ISO 800
Fokus tersebar di semua titik (tidak bokeh) saat menggunakan aperture kecil
Shutter Speed 1/1000s
Aperture f4
ISO 800
Background agak sedikit ngeblur (bokeh) saat aperture dinaikkan ke f4
Shutter Speed 1/5000s
Aperture f1.8
ISO 800
Background sangat ngeblur(bokeh) saat menggunakan aperture dengan bukaan lebar/besar

ISO
Elemen terakhir yang akan kita bahas yaitu ISO. Berbeda dengan shutter speed yang berpengaruh terhadap blur tidaknya sebuah gambar ataupun aperture yang berpengaruh terhadap bokeh atau tidaknya suatu gambar, ISO tidak mempengaruhi dimensi gambar. Lalu, apa itu ISO? ISO adalah sensitivitas sensor terhadap cahaya. Semakin besar ISO yang kita gunakan, maka gambar yang akan dihasilkan akan semakin terang namun memunculkan noise atau grain digambar yang dihasilkan. Sedangkan, saat menggunakan ISO yang kecil, gambar yang dihasilkan akan semakin gelap namun tidak terdapat noise. Jadi, ISO hanya merubah gelap terangnya sebuah gambar dengan hanya menimbulkan efek noise atau tidak, tergantung situasi dan kondisinya. Jadi, ISO berapa yang sebaiknya digunakan? Semuanya tergantung siatuasi dan kondisi cahaya pada saat kita akan mengambil gambar.
Shutter Speed 1/8s
Aperture f3.5
ISO 200
Gambar yang dihasilkan gelap, namun tidak terdapat noise saat menggunakan ISO rendah
Shuuter Speed 1/8s
Aperture f3.5
ISO 800
Gambar yang dihasilkan cukup terang dan tidak ada noise yang dihasilkan saat menggunakan ISO yang tepat
Shutter Speed 1/8s
Aperture f3.5
ISO 12800
Gambar yang dihasilkan terlalu terang dan terdapat noise saat menggunakan ISO yang terlalu tinggi
Dalam segitiga eksposure, hubungan antara ISO, Shutter Speed, dan Aperture saling mempengaruhi satu sama lain. Diperlukan setup yang tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada agar hasil yang didapatkan dapat maksimal. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan leave comment di bawah ya!
Share:

0 komentar:

Post a Comment